tulisan bergerak

ASSALAMUALAIKUM

Senin, 13 Mei 2013

Visual




VISUAL
MENINGKATKAN BELAJAR DENGAN VISUAL

VISUAL DALAM RUANG KELAS
Macam-macam visual yang dapat digunakan untuk meningkatkan belajar. Dengan menggunakan visual, kita bisa menemukan cara-cara membantu siswa memahami gagasan yang rumit. Visual bisa melibatkan para pembelajar dalam pencarian pengetahuan. Banyak jenis media non-terproyeksi yang dapat membuat pengajaran kita lebih realities dan melibatkan gambar, diagram, grafik, poster dan kartun. Media non-terproyeksi semacam ini bisa dipajang di ruang kelas atau digunakan sebagai bagian dari aktivitas belajar seluruh kelas, kelompok kecil atau individual.
Media terproyeksi, seperti slide PowerPoint, gambar digital, dan transparan OHP bisa meningkatkan presentasi yang dilakukan oleh guru atau siswa. Visual terproyeksi bisa dilihat seluruh kelompok. Visual terproyeksi sesuai untuk digunakan di seluruh tingkat kelas dan untuk pengajaran bagi seluruh area kurikulum.


A.      Visual Non-Terproyeksi
Visual Non-terproyeksi mudah digunakan karena tidak membutuhkan perlengkapan apapun. Relatif murah ; kenyataannya banyak darinya bisa diperoleh hampir tanpa biaya. Dapat digunakan di banyak cara di seluruh tingkatan pengajaran dan di seluruh disiplin pelajaran. Dapat menggunakannya untuk merangsang ekspesi kreaktif, seperti menceritakan atau menuliskan kisah dan membuat puisi. Visual ini terutama sekali membantu dengan tujuan-tujuan yang mengharuskan mengidentifikasi orang-orang, tempat, atau benda-benda, serta semua yang melibatkan gagasan rumit yang bisa digambarkan dengan diagram atau model.

1.    Jenis-jenis Visual Non-Terproyeksi
Ada enam jenis visual tanpa proyeksi yang umumnya ditemui dalam ruang kelas:gambar diam, gambar (termasuk sketsa dan diagram), bagan, grafik, poster, dan kartun.
a.       Gambar diam, merupakan representasi foto-grafis (atau seperti-foto) dari orang, tempat, dan benda-benda. Ini mudah ditemukan dalam buku-buku (termasuk buku cetak), majalah, Koran, catalog, kartu pos dan kalender. Selain itu, bisa juga diperoleh bahan cetakan belajar(ilustrasi berukuran ekstra besar yang dicetak pada material tahan lama) dari pusat media, perpustakaan, atau perusahaan pemasok pendidikan. Bahan cetakan belajar juga memiliki banyak aplikasi dalam situasi pengajaran. Dapat membantu terutama sekali dalam belajar mengenai proses-proses. Dapat juga bemanfaat dalam pelajaran ilmu sosial. Dalam geografi materi cetakan ini membantu mengilustrasikan hubungan antara masyarakat dan lingkungannya yang karena terbatasnya ruang, tidak bisa digambarkan dengan mudah di dalam buku ajar.
b.      Gambar, sketse, dan diagram memanfaatkan penyusunan grafis dari garis-garis untuk mewakili orang-orang, tempat, benda, dan konsep. Gambar, secara umum, lebih sempurna dan mewakili ketimbang sketsa (misalnya komposisi sosok lurus), yang sepertinya kekurangan detail. Diagram biasanya dimaksudkan untuk mempeelihatkan hubungan atau membantu menjelaskan proses, seperti bagaimana sesuatu bekerja atau dibangun.Gambar mudah ditemukan dalam buku cetak dan materi kelas lainnya. Bisa digunakan di seluruh fase pengajaran, dari pengenalan topik hingga evaluasi. Karena gambar sepertinya tidak begitu detail dan lebih mengarah kepada tujuan pengajaran ketimbang material fotografis, sehingga para siswa dari berbagai usia memahami gambar dengan mudah.
Kita bisa menggunakan program tata letak, desain, dan ilustrasi yang berbasis komputer. Contoh-contoh dari program tersebut AppleWorks, Photoshop, Adobe Illustrator. Sebagian besar program grafik computer dibekali dengan ratusan atau bahkan ribuan model ketikan dan gambar clip art dan bisa merekayasa visual dalam beragam cara.
c.       Bagan(charts), atau bagan/diagram merupakan representasi visual dari hubungan yang abstrak seperti kronologi, kuantitas, dan hierarki. Sebuah bagan seharusnya memiliki tujuan pengajaran yang jelas dan terdefenisikan dengan baik. Secara umum, seharusnya menyampaikan hanya satu konsep utama atau konfigurasi konsep.
d.      Grafik, menyediakan representasi visual dari data angka-angka. Grafik menggambarkan hubungan diantara unit-unit data dan kecenderungan dalam data. Terdapat empat jenis grafik; batang, bergambar, lingkaran, dan garis. Sejumlah program peranti lunak computer, terutama peranti lunakspreadsheet  seperti  Microsoft Excel, sekarang memudahkan dalam pembuatan bagan dan diagram yang terlihat professional.
e.       Poster menggabungkan kombinasi visual dari gambar, garis, warna, dan kata. Digunakan untuk menarik dan mempertahankan perhatian pemirsa cukup lama untuk mengomunikasikan pesan singkat, biasanya yang bersifat persuasif. Poster harus menarik perhatian dan meyampaikan pesannya dengan cepat. Salah satu kekurangan dari menggunakan poster adalah bahwa pesan mereka dengan cepat diabaikan karena sudah biasa. Akibatnya, poster tidak seharusnya dipajang terlalu lama.
Poster dapat efektif dalam sejumlah situasi belajar. Poster bisa merangsang minat tentang sebuah topik baru, menyampaikan sebuah kejadian khusus, atau mendorong kemampuan sosial. Poster mungkin dimanfaatkan untuk tujuan motivasi-mendorong para siswa untuk membaca lebih banyak.
f.       Kartun (coretan garis yang merupakan karikatur dari orang-orang, hewan, atau kejadian fiksi atau nyata) merupakan format visual yang sangat popular dan familier. Kartun mudah dan cepat dibaca dan menarik bagi anak-anak dari berbagai usia. Kartun bisa memuat  kebijakan dan kecerdasan. Poster sering kali menggunakanya untuk membuat atau memperkuat sebuah poin dari pengajaran.Apresiasi dan interprestasi, bagaimanapun juga, tergantung pada pengalaman dan kecerdasan. Pastikan bahwa kartun yang dibuat digunakan untuk tujuan pengajaran berada dalam kisaran pengalaman dan intelektual para siswa.

2.    Keuntungan
a.    Tersedia dengan mudah. Visual non-terproyeksi begitu melimpah. Sering kali kita melewatkannya. Tersedia dalam buku cetak, majalah, dan sebagian besar material pengajaran.
b.    Tidak mahal. Visual cetakan atau non-terproyeksi tersedia dalam biaya murah. Banyak pula yang gratis.
c.    Tidak dibutuhkan perlengkapan. Mereka tidak membutuhkan proyektor atau computer untuk digunakan. Satu-satunya persyaratan adalah pencahayaan.
d.   Mudah digunakan. Tidak membutuhkan kemampuan khusus apapun kecuali kemampuan untuk menafsirkannya. Bahkan anak yang paling belia pun bisa langsung menggunakannya.
e.    Tersedia bagi seluruh tingkat pengajaran dan bagi seluruh disiplin. Visual non-terproyeksi tersedia dan bisa digunakan bersama dengan pembelajar dari berbagai usia. Bahkan poko persoalan bisa menggabungkan visual secara efektif untuk mendorong belajar.
f.     Penyederhanaan gagasan yang rumit. Visual non-terproyeksi membantu menyederhanakan bahkan konten dan hubungan yang paling rumit sekalipun.

3.    Keterbatasan
a.    Ketahanan. Sebagian besar visual non-terproyeksi dicetak di kertas dan bisa rusak sejalan dengan penggunaan oleh siswa.
b.    Penyimpanan. Bagaimana menyimpan visual non-terproyeksi ketika tidak sedang digunakan bisa menjadi sebuah masalah.
c.    Mungkin terlalu kecil untuk dilihat oleh grup. Banyak visual non-terproyeksi tidak sesuai untuk digunakan dengan sebuah grup karena ukurannya yang kecil. Bahan cetakan belajar dirancang untuk digunakan dalam grup.
d.   Dua dimensi. Visual bersifat dua dimensi dan menampilkan hanya satu pandangan dari benda atau pemandangan. Keterbatasan ini bisa ditutupi dengan menggunakan pandangan yang beragam.

4.    Integrasi
Visual non-terproyeksi bermanfaat dalam berbagai situasi pengajaran. Aplikasinya mungkin ada diseluruh area kurikulum pada seluruh tingkatan kelas. Berikut ini sedikit contohnya :
a. Seluruh mata pelajaran. Foto digunakan di sebagian besar buku cetak untuk mengambarkan konten.
b.Ilmu computer. Grup-grup siswa menyiapkan bagan yang menampilkan hubungan berbagai komponen computer.
c.Penulisan kreatif. Guru menampilakn sebuah bahan cetakan yang menggambarkan pemandangan di desa dan meminta para siswa untuk menuliskan cerita pendek terkait dengan visual tersebut.
d.Tata kalimat bahasa inggris. Guru menggunakan gambar di papan putih untuk menggambarkan kata depan seperti di atas (over), di bawah (under), dan di belakang (behind).
e. Bahasa Asing. Untuk kosakata, para siswa menggunakan kartu flash kecil dengan sebuah visual di satu sisi dan kata berbahasa asing di sisi lainnya.
f.Kesehatan. Poster dipajang di seputar SD untuk mendorong kebiasaan makan yang sehat dan berolahraga.
g.Matematika. Buku cetak aljabar berisi grafik yang menampilkan hubungan antara nilai x dan y dalam sebuah persamaan.
h. Pendidikan jasmani. Pengajar menggunakan gambar diam mengenai latihan pemanasan untuk mengingatkan para siswa akan posisi tubuh dan urutannya.
i. Fisika. Sebelum menyelesaikan soal, setiap siswa diharuskan memvisualkan soal fisika dengan menggambar sebuah diagram yang menampilkan hubungan di antara sifat-sifat yang diketahui dengan nilai-nilai yang belum diketahui.
j.Membaca. Untuk memotivasi pembaca belia, buku setingkat SD memiliki visual yang berwarna-warni yang menyertai cerita.
k. Kajian sosial. Para siswa mempelajari kartun editorial dari berbagai koran dan membahas penafsiran individual mereka atas kartun tersebut.

B.       Visual Terproyeksi
Visual terproyeksi sebagai format media gambar diam diperbesar dan ditampilkan di layar. Proyeksi semacam itu mungkin diperoleh dengan mengirimkan gambar dari sebuah computer atau kamera dokumen ke sebuah proyektor digital atau monitor televise atau menggunakan sebuah OHP.
1.      Peranti lunak Presentasi
Peranti lunak presentasi menyediakan format untuk menampilkan visual berbasis komputer dengan sebuah proyektor digital. Peranti lunak presentasi yang paling dikenal luas adalah PowerPoint.
1.1.   Keuntungan
a.    Mudah dibuat dan digunakan. Siswa serta guru, bisa membuat presentasi digital dengan sedikit pelatihan mengenai peranti lunak itu sendiri. Sebagian besar piranti lunak menyediakan “Wizards” untuk membantu.
b.    Catatan yang diproyeksikan untuk anda dansiswa anda. Selama presentase mata pelajaran, catatan yang diproyeksikan membantu mempertahankan pada jalurnya. Catatan tersebut juga mengisyaratkan siswa terhadap poin-poin kunci dari presentase.
c.    Mendukung penyertaan multimedia. Teks, visual, animasi, audio, dank lip video dapat disertakan.
d.   Mendukung interaktivitas. Presentasi bisa menyertakan hiperteks dan tombol navigasi untuk lebih mendukung proses belajar. Presenter bisa dengan mudah menuju slide manapun dalam presentasi atau tautan ke salah satu dari berkas multimedia terpadu atau situs internet.
e.    Menghasilkan format yang beragam. Selebaran, halaman catatan, dan garis-garis besar bisa dibuat dengan satu klik mouse.

1.2.   Keterbatasan
a.    Hanya kata-kata. Banyak siswa merupakan pembelajaran visual, sehingga tanpa visual dalam presentasi mereka mungkin tidak belajar.
b.    Terlalu banyak pada satu slide. Beberapa orang meletakkan terlalu banyak kata pada satu slide. Batasi jumlah kata pada satu slide maksimal 36.
c.    Terlalu banyak “lonceng dan pluit”. Penggunaan yang terlalu banyak dari transisi, animasi dan suara tak relevan bisa mengalihkan perhatian.
d.   Presentasi yang linear. Yang terlalu sering terjadi sang presenter tidak menyadari bahwa peranti lunak tersebut memiliki kemampuan untuk membuat presentasi menjadi nonlinear dan interaktif menggunakan hyperlink.

1.3.   Integrasi
a.    Seluruh mata pelajaran. Menampilkan garis besar dari presentasi : menyediakan kata-kata kunci dan istilah teknis.
b.    Seni. Menggambarkan penggunaan warna untuk memacu emosi, mempelajari berbagai jenis pahatan; menampilkan apa yang terjadi ketika dua warna dipadukan.
c.    Biologi. Menganimasi peredaran darah; menggambarkan pertumbuhan HIV-AIDS diseluruh dunia.
d.   Bisnis. Memperlihatkan prosedur tahap demi tahap untuk penggunaan peranti lunak akuntasi, menampilkan struktur organisasi.
e.    Ilmu keluarga dan konsumen. Menampilkan tata letak ruangan dengan berbagai penyusunan perabotan berbeda; menunjukkan teknik yang sesuai untuk mengukur bahan-bahan kering.
f.     Sejarah. Mempelajari pertempuran dan alur waktu sebuah perang; “kunjungan” ke tempat-tempat bersejarah setempat.

2.      Gambar Digital
Visual bisa dibidik dan disimpan dalam formt digital. Gambar digital bisa dibidik menggunakan kamera digital atau alat pindai . Penyimpanan digital meliputi CD, DVD, perangkat simpan bisa dipindah, dan hard drive computer. Untuk menampilkan gambar digital ke sebuah kelompok bisa menggunakan monitor televise yang besar atau proyektor digital.
Proyektor digital dirancang untuk menampilkan gambar digital dan merupakan unit yang berdiri sendiri dan terpisah.
1.1.       Keuntungan
a.    Tampilan yang instan. Kamera digital memungkinkan untuk secara instan menampilkan setiap foto setelah dibidik.
b.    Akses acak. Gambar digital bisa dengan cepat dan acak diakses.
c.    Mudah digunakan. Sebagian besar kamera digital dan proyektor digital mudah digunakan.
d.   Kemampuan simpan. CD dan DVD bisa menyimpan sejumlah besar visual digital.
e.    Visual berkualitas terbaik. Kualitas visual digital sering kali lebih baik daripada gambar fotografis yang dicetak atau pada slide dan tidak memudar seiring waktu.
f.     Ketahanan. Perangkat simpan portable sanagt tahan lama. Gambar digital yang disimpan tetap awet kualitasnya sejalan dengan waktu.
g.    Portabel. Cakram digital sangat portable.
h.    Pilihan gambar. Keuntungan terbesar dari visual digital adalah bisa memproyeksikan apa saja.
i.      Interaktivitas.

1.2.       Keterbatasan
a.    Mahal. Kamera digital, alat pindai, dan proyektor berkualitas terbaik sangatlah mahal.
b.    Ringkih. Kamera digital bisa sedikit lebih ringkih saat dioperasikan ketimbang kamera tradisional.
c.    Membutuhkan proyektor atau monitor digital.

1.3. Integrasi
Visual digital terproyeksi cocok untuk seluruh pembelajaran dan mata pelajaran. Visual digital menyediakan presentasi yang dinamis atau interaktif, seperti yang berikut ini : seni, biologi,kimia, ilmu konsumen, ekologi, sastra, matematika.

3.      Proyeksi Kamera Dokumen
Kamera dokumen merupakan kamera video yang dilekatkan pada sebuah penyangga salin, yang diarahkan ke bawah ke dokumen, gambar rata, grafik, atau benda-benda kecil.
1.1. Keuntungan
a.     Tidak dibutuhkan proses produksi.
b.    Seluruh siswa memiliki pandangan yang setara.
c.     Memungkinkan penayangan karya siswa secara kelompok.
d.    Membutuhkan pencahayaan ruang yang normal.

1.2.   Keterbatasan
a.    Piranti keras yang sangat banyak.
b.    Butuh monitor dan proyektor
c.    Pencahayaan tambahan

1.3.   Integrasi
Aplikasi ada di seluruh area kurikulum pada seluruh tingkatan kelas. Berikut ini adalah sedikit contohnya : Seluruh mata pelajaran, seni, biologi, bisnis, ilmu konsumen dan keluarga.

4.      Overhead Projection (OHP)
Sistem OHP masih banyak digunakan di ruang kelas karena biayanya yang murah dan mudah digunakan. OHP yang khas merupakan perangkat  yang sederhana.
1.1.   Keuntungan
a.     Kecemerlangan
b.    Kontak mata
c.     Mudah digunakan
d.    Kelimpahan material
e.     Kemampuan merekayasa
f.     Ketersediaan seluruh material
g.    Material buatan sendiri
h.    Persiapan di muka
1.2.   Keterbatasan
a.     Tidak diprogramkan sebelumnya
b.    Bukan bersifat pengajaran sendiri
c.     Membutuhkan proses produksi
1.3.   Integrasi
Karena gambar besar dan bisa direkayasa atau menambahkannya sembari memproyeksi, OHP sungguh serba guna. Alat ini telah digunakan untuk berkomunikasi secara visual di setiap mata pelajaran dalam kurikulum.
Berikut ini adalah sedikit gagasannya : Seni, ilmu konsumen dan keluarga,drama, geografi, seni bahasa.

KESIMPULAN
Bab ini membahas kelebihan, keterbatasan dan intergrasi dari berbagai visual dalam belajar serta membahas berbagai jenis visual terproyeksi maupun non terproyeksi.                 Visual tanpa proyeksi dapat ditemui dalam ruang kelas:gambar diam, gambar (termasuk sketsa dan diagram), bagan, grafik, poster, dan kartun.
Visual terproyeksi, peranti lunak presentasi, visual digital, kamera dokumen, dan OHP seluruhnya memiliki keuntungan dan keterbatasan serta teknik untuk memadukan dan memanfaatkan siswa di ruang kelas. Visual merupakan salah satu alat penting bagi pembelajaran dan seharusnya digunakan semestinya baik oleh guru maupun siswa.  




DAFTAR PUSTAKA

Smaldino, Sharon. Lowter, Deborah. Russel, James D. 2011. Teknologi  Pembelajaran dan Media untuk Belajar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar